Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Semoga menjadi Haji Mabrur”. Seringkali kalimat tersebut diucapkan manakala kerabat, rekan kerja, tetangga maupun handai taulan melepas seseorang untuk berangkat menunaikan ibadah haji, atau tatkala mereka mengadakan walimatussafar (tasyakuran). Namun banyak dari mereka yang belum mengetahui apa dan bagaimana istilah haji mabrur itu sendiri, yang kemudian sering diplesetkan menjadi istilah haji mabur (terbang).

haji mabrur 5 Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Sebelum menguraikan upaya untuk meraih dan mempertahankan yang berkaitan dengan haji mabrur itu, terlebih dahulu perlu dikemukanan pengertian dan istilah nya.

Istilah haji mabrur memang tidak dikenal dalam Al Qur’an, namun diperkenalkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW melalui beberapa hadistnya. Hadist yang paling populer dari sekian banyak hadist mengenai mabrur adalah seperti yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari dan Muslim yang menyatakan :

haji mabrur Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Dari segi bahasa, kata mabrur terambil dari akar kata “barra” yang berrti surga, benar,  diterima, pemberian,keluasan, dan kebijakan. Sedang dari segi pengertian nya, menurut ajaran gama ditemukan beberapa pendapat ulama.  Mengutip Al Syaukaani dalam bukunya Nail Al-Authaar menjelaskan bahwa :

Ibnu Khalawaih berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang maqbul (diterima oleh Allah SWT). Ulama berpendapat bahwa ia adalah haji yang (pelaksanaanya) tidak dinodai oleh dosa. Pendapat ini dipilih dan dikuatkan oleh Al Nawawy. Sementara menurut Al Qurthuby, pendapat – pendapat yang dikemukakan oleh para ulama meniliki makna yang saling berdekatan.

Kesimpulannya adalah “haji yang sempurna hukum – hukumnya, sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana ibadah haji sesuai tuntunan . “  Riwayat Imam Ahmad dan Al hakim dari sahabat Rasulullah SAW, Jaabir, bahwa para sahabat bertanya kepada rasul “Apakah haji Mabrur itu?” Beliau Rasulullah menjawab “Memberi pangan dan menyebarluaskan kedamaian”. Tetapi hadist ini dilemahkan oleh pengarang kitab Al-That. Seandainya sahih, maka pasti itulah makna mabrur

haji mabrur 6 Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Seorang cendikiawan muslim Prof Abdul Halim Mahmud, bekas pimpinan tertinggi perguruan Al-Azhar menuliskan bahwa “haji adalah kumpulan yang sangat indah dari simbol – simbol kerohanian yang mengantarkan seorang muslim-apabila dilaksanakan dalam bentuk dan cara yang benar-masuk dalam lingkungan Allah SWT.

Jika saja apa yang diungkapkan oleh Al Qurthuby dan Abdul Halim diatas diterima sebagai keterangan tentang haji mabrur, maka yang perlu digaris bawahi kembali dalam konteks memelihara kemabruran adalah memperhatikan makna – makna dan simbol – simbol ibadah haji sesuai tuntunan sebagainama diutarakan dalam artikel sebelumnya.

Sungguh,  hanya Allah , yang berhak menilai dan menerima mabrur tidaknya haji seseorang. Para ulama yang hanya memperkirakan tanda-tandanya sesuai dengan Al Qur’an, Hadist dan ilmu Allah yang telah dianugrahkan kepada mereka saja. Diantara tanda – tanda tersebut antara lain :

Pertama: Harta yang dipergunakan untuk berhaji merupakan harta yang halal. karena Allah akan menerima amal ibadah kita yang berasal dari sesuatu yang halal, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

 haji mabrur 1 Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Orang yang berharap hajinya mabrur  harus dapat dipastikan bahwa semua harta yang dipakai untuk haji adalah harta yang halal, terutama bagi jamaah haji yang selama menabung serta mempersiapkan segala keperlua biayanya berhubungan dengan dari transaksi dengan jasa keuangan perbankan . Jika tidak, maka haji mabrur tak ubahnya seperti pungguk merindukan bulan.  Itu sama saja jamaah sedang tidak berhaji, atau hanya “berjalan – jalan” dalam rombongan haji. 

Kedua: Perbuatan nya selalu dilakukan dengan  didasari rasa keikhlasan dan kebaikan, sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Minimal, rukun haji dan kewajibannya harus dijalankan, dan yang jelas semua perbuatan yang terlarang wajib ditinggalkan. Apabila terjadi kesalahan, maka hendaknya segera melakukan penebusnya, baik dengan fidyah haji dan umroh, dam ataupun amalan yang telah ditentukan.

Di samping itu, haji yang mabrur ada pada keikhlasan hati, yang seiring dengan kemajuan zaman dan tekhnologi semakin sulit dijaga. Terkadang niat dalam hati benar2 ikhlas, namun gaya “narsis” yang tak bisa ditinggalkan, membuat kiat mengg-upload di media jejaring sosial, BBM, free chat, dll.  Tak bisa dipungkiri, dengan kondisi ekonomi yang semakin membaik, banyak orang yang secara sadar berbuat baik, tapi sangatlah sedikit yang dilakukan semata ikhlas karena mengharap Ridho Allah SWT.”

haji mabrur 7 Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Ketiga: Ibadah Hajinya selalu penuh dengan memperbanyak banyak amalan-amalan, baik yang wajib maupun sunat, selalu berdzikir dan menyebut asma’ Allah disetiap kesempatan, shalat wajib dan sunat di Masjidil Haram, memperbanyak thawaf sunat, shalat tepat pada waktunya, dan membantu kesusahan teman seperjalanan.

Ibnu Rajab  menegaskan, “Maka haji mabrur ialah yang terkumpul di dalam hajinya perbuatan bijak, serta ditambah pula dengan menghindari perbuatan – perbuatan yang dapat menyebabkan dosa.

Amalan khusus yang sesuai syariat untuk mendapatkan haji mabrur ialah memperbanyak sedekah serta bertutur kata baik selama dalam ibadah haji. Rasulullah SAW pernah ditanya dalam suatu kesempatan tentang makna haji mabrur, Beliau pun menegaskan :

haji mabrur 2 Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

 Keempat: Tidak melakukan perbuatan maksiat selama ihram.

Maksiat dilarang secara tegas dalam agama Islam dalam segala kondisi. Apalagi jika sedang berihram, larangan  berbuat maksiat menjadi sangat tegas, dan  jika larangan tersebut dilanggar, maka haji mabrur hanya sebatas impian belaka. Rafats  adalah segala bentuk perbuata keji dan perbuatan yang sama sekali tidak berguna. Di dalamnya termasuk perbuata  –maaf-  bersenggama, bercumbu rayu, atau bahkan hanya membicarakannya, walaupun dengan suami atau istri kita sekalipun selama sedang ihram.

Fusuq diartikan sebagai keluar dari ketaatan kepada Allah SWT,  bagaimana pun bentuknya. Sedangkan jidal adalah beradu mulut atau berbantah – bantahan  yang berlebihan.  Allah berfirman dalam QS Al Baqarah (2) ayat : 197 :

haji mabrur 3 Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Rasulullah SAW bersabda,

  haji mabrur 4 Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Rafats, Fusuq dan Jidal dilarang selama ihram. Namun di luar waktu ihram, “berhubungan” dengan pasangan masing – masing kembali dibolehkan, sedangkan Rafats dan Fusuq tetaplah tidak boleh.

Kelima:  Menjadi lebih baik

Ibadah haji  ibarat  bengkel. Selama kurang lebih 25 hingga 40 hari jamaah yang selama ini disibukkan dengan urusan duniawi, harus berailh dengan kesibukan ibadah dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di samping itu, jamaah juga memiliki kesempatan mendalami ilmu agama dari para mubaligh, pembimbing selama di tanah suci serta melihat secara langsung praktik beragama yang benar dari jamaah seluruh dunia.

Bagaikan mobil yang baru menjalani perawatan di bengkel, Logikanya, setiap jamaah sepulang melaksanakan ibadah haji akan kembali dari tanah suci dalam kondisi yang jauh lebih baik,  dalam hal ketaqwaan dan keimanan. Namun apabila yang terjadi justru lebih buruk, apalagi setelah jangka waktu yang cukup lama dari waktu kepulangan,  Banyak yang tidak terlihat lagi pengaruh baik pada dirinya.

Taubat dengan sebenar – benarnya taubat setelah melakukan ibadah haji, merubah diri menjadi jauh lebih baik, memiliki hati ikhlas, ilmu serta amal shaleh yang lebih mantap,  jurur, dan  benar, dan selalu bersikap istiqamah di atas kebaikan itu boleh dikata merupakan salah satu tanda dari kemabruran.

suhu panas mekkah Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Sekali lagi, mabrur tidaknya hanyalah hak prerogative Allah semata.  Para ulama dan habaib serta orang – orang sholeh hanya memperjelas tanda-tandanya saja sesuai dengan ilmu yang telah Allah anugerahkan kepada mereka.  Walaupun haji merupakan salah satu cara untuk menggapai ridho Allah, dan akan diganjar dengan Surga, bukan berarti sepulang haji kita berleha – leha, kembali mengulangi perbuatan yang jauh dari nilai ketaqwaan, namun sebaliknya, tetaplah berdoa, istiqomah dijalan Allah agar segala bentuk ibadah yang telah dilakukan benar-benar diterima.  Namun apabila tanda-tanda kemabruran haji tidak nampak dari seseorang selama atau sepulang haji , maka anda harus waspada diri, perbanyak istighfar dan memperbaiki  perbuatan serta amalan – aman tuk menggapai ridha Allah SWT.  Kebenaran hanya milik Allah. Wallahu a’lam…

Be Sociable, Share!
  • vuible Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur
  • more Meraih dan Mempertahankan Haji Mabrur

Speak Your Mind

*